TEDxUPMJakarta 2019: BEYOND LIMITS

“The sky’s the limit” is a universally acclaimed principle that drives us to reach a lofty goal. While it often goes without saying, what does it tell us, actually?

One thing that matters as we know it is human progress. In our previous event, TEDxUniversitasPrasetiyaMulyaJakarta #1: Forward, we highlighted the beauty of letting go, of seeing the unseen, and of pushing the boundaries in order to pursue our calling. And we realize we cannot just stop there. In university we are taught to believe there is an infinite amount of knowledge that leads us to discover, contemplate and self-reflect. So is the sky really the limit?

TEDxUniversitasPrasetiyaMulyaJakarta #2: Beyond Limits intends to nurture us learners by bringing back the spirit of moving forward and creating a moment where we will meet leaders, artists, innovators, change makers, entrepreneurs who have questioned their own limits, and will make us question ours.

Let the unwritten, the unspoken and the untold surprise you in this event.

MEET OUR SPEAKERS

IGA MASSARDI

( Musician )

“Saya menjalani keseharian dengan ide-ide yang beterbangan”. Ini menjadi bahan bakar untuk Iga terus berkarya dalam dunia musik. Gitaris dan Vokalis Barasuara ini sedang mengerjakan proyek dokumentasi musik bernama Selat.ID yang bertujuan untuk menghubungkan geliat, bakat-bakat musik di kota kecil, serta pengarsipan musik dan musisi di seluruh nusantara.

Adakah batasan di dalam bermusik?

SISYELIN BAWEKES

( Science Teacher )

“Bapak saya selalu mendorong saya untuk mencintai ilmu pengetahuan melalui mengamati alam sekitar dan membaca buku. Beliau juga yang mengajak saya berkelana di alam bebas dan mengeksplorasi keindahan semesta”. Tentunya kegemaran ini dipupuk dan bertumbuh menjadi passion ke dunia penelitian life science. Elin memulai karirnya sebagai guru Biologi di SMA Unggul Del. Ia menularkan semangat ke anak didiknya melalui riset yang dekat dengan kehidupan sehari- hari. Hingga pada tahun 2016, Elin berkesempatan untuk menjadi salah satu mentor yang mendampingi 10 siswa/i SMA Unggul Del membuat mikrolab, sebuah sistem riset robotik di International Space Station, NASA, dan mengaplikasikan konsep fermentasi di lingkungan mikrogrativitasi.

Adakah yang lebih besar dari pengembangan ilmu pengetahuan dan science di luar angkasa?

MARGARETHA QUINA

( Environmental Lawyer )

Quina percaya pada kekuatan hukum sebagai alat penggerak sosial untuk melindungi bumi. Ini mendorongnya untuk berkarir sebagai pengacara dan konsultan hukum lingkungan. Ia terlibat dalam berbagai inisiatif hukum masyarakat sipil untuk mendorong pembentukan peraturan yang melindungi kesehatan dan lingkungan dari polusi, serta mendampingi LSM lingkungan dalam kasus-kasus lingkungan hidup.

Seperti apa Quina memaknai partisipasi kita semua dalam menegakkan hukum lingkungan?

NAUFAL ABSHAR

( Artist )

Mengambil jurusan seni ataupun berkarya sebagai seniman acapkali dipandang sebelah mata, karena tidak memiliki masa depan. Ocehan, pertanyaan bertubi-tubi bahkan keraguan pun diterima oleh Naufal. Namun ia terus menekuni talentanya sebagai pelukis hingga saat ini. Karyanya HAHA merepresentasikan tawa dan humor sebagai alat untuk kritik sosial, sudah ditampilkan di berbagai belahan dunia. Naufal juga sedang menjalankan proyek amal yaitu workshop menggambar untuk komunitas pengungsi dan anak-anak tuna netra.

Naufal akan membawa kita dalam perjalanan hidup dan karyanya, dan berhenti sejenak untuk berefleksi apakah mimpi layak diperjuangkan? Dan benarkah adanya batasan dalam berkarya?

NADYA CHRISTINA

( Sociopreneur )

“Jadilah teladan. Mulailah dari diri sendiri dan bersama-sama lakukan hal baik terhadap lingkungan sekitar kita”. Salah satu prinsip hidup yang dipegang teguh oleh Nadya.

Tentunya perenungan ini ditemukan secara personal ketika dua tahun lalu Nadya melakukan magang di salah satu NGO yang bergerak dalam bidang lingkungan hidup, dan menggarap proyek zero waste di lautan. Pada saat mengerjakan proyek magang tersebut, secara bersamaan ia menjadi pengguna plastik dalam kesehariannya.

Apakah kita adalah Nadya dua tahun lalu?

REGGY HASIBUAN

( Stand-Up Comedian )

Menjadi pelawak tunggal pertama di Indonesia yang menggunakan Bahasa Inggris dalam lawakannya sejak 2009 hingga sekarang, Reggy Hasibuan mengajarkan kita konsistensi dalam menekuni passion. Ia melepaskan karir yang mapan dan memutuskan untuk meniti mimpi di dunia komedi. Hasilnya? Ia mengalami kegagalan dan kehilangan. Bagi Reggy, seseorang bisa disebut komedian sejati jika sudah pernah berada di titik terendah dalam hidup dan masih dapat menertawakannya.

Jika itu kita, apa yang kita perlukan untuk bangkit?

HADI SADIKIN

( Body Movement Coach )

“Lelah namun sumringah” adalah prokem yang menggambarkan hidup Kang Hadi. 7 hari dalam seminggu diisi dengan kesibukan di kantor dan di dunia seni. Ia merupakan founder dari Bandung Dance Collective, produser di Amphibi Animation Studio, dan pelatih body movement di Gita Pakuan Marching Band. Namun demikian, ia bahagia menjalani kehidupan yang dibangun atas definisinya sendiri, yaitu menjadi diri sendiri, dapat menciptakan tujuan yang penting dan sejati baginya, terus berkembang tidak peduli betapa besar atau kecil, dan selalu berupaya menjadi versi diri yang lebih baik.

Berapa banyak dari kita yang merasa lelah namun sulit sumringah?

MAX MANDIAS

( Co-Founder Burgreens )

Setelah lulus SMA, Max melanjutkan pendidikan dan bekerja sebagai data analyst di negara Amsterdam. Rutinitas dijalaninya hingga pada suatu titik ia mengalami demotivasi dan secara perlahan jatuh ke dalam depresi. Max berupaya mencari berbagai solusi, dan selama fase pencarian ini, ia memutuskan untuk mengubah makanan menjadi 100% berbasis nabati. Kondisinya membaik tanpa kontribusi obat-obatan ataupun visitasi dokter.

Apakah benar plant-based nutrition memiliki dampak dalam pemulihan mental, fisik, dan emosional?